Akhirnya muncul juga keberanian saya untuk menerbitkan postingan ini. Kalo ditelaah, tampak sebuah judul yang cukup puitis *at least, in my opinion*. Dalam postingan kali ini akan saya ceritakan pengalaman terkait perjalanan menggunakan kereta api (uda ga pake uap,sekarang zamannya diesel dan listrik, kalo tetep disebut kereta api, saya bakal nyebut isuzu panther sebagai...mobil api. ABAIKAN!!!).
Beberapa saat yang lalu, saat lagi tenggelam dalam euforia liburan semester, saya nyoba maen2 ke salah satu forum backpacker. Disana ada salah satu bule yang curhat tentang pengalamannya bertamasya ria di Indonesia dengan menggunakan kereta. Si Bule yang dari Belanda ini sempet bilang kalo dia lebih demen naek kereta daripada bus, karena kalo naek kereta, saat dia jenuh dia bisa berdiri, jalan2 di koridor kereta, menyusuri dari gerbong pertama hingga terakhir. Beda dengan bus, kalo jenuh ga mungkin dia bisa jalan2 (entar disangka penumpang laen bayar bus-nya pake dolar karena kernetnya bule. Sekali lagi..ABAIKAN!!!).
Tapi malang tak dapat ditolak, Si Bule yang mau nyobain kereta ekonomi kayanya ga liat kalender. Dia ambil kereta ekonomi dari Jakarta tujuan Jogja di H-10 lebaran. Alhasil,dia harus rela jadi 'sarden import' sepanjang perjalanan menuju Jogja. Musnah segala harapannya untuk bisa jalan2 di koridor kereta. Poor You Meneer...
Itu baru sedikit cerita tentang kereta. Berikut akan saya kemukakan tanggapan saya yang merupakan hasil pengalaman terkait moda transportasi darat yang satu ini.
1. Kalau anda ingin tidak disiplin, dan mengusik kenyamanan orang lain tanpa membawa beban moral berlebih, jadilah orang berkuasa.
Sebenernya point pertama ini fakta yang saya putarbalikkan dari cerita berikut.
8 September 2011, saya yang terkena penyakit kronis (gondongan) harus dilarikan ke Solo karena di Jogja ga ada yang ngurusin dan saya ga tau toko obat shinsei di Jogja. Alhasil, dibekali masker yang menempel di wajah unyu unyu saya (unyu unyu...NDIASE!) dan ditemani seorang temen kontrakan, saya pun ambil kereta prameks hari itu jam 16.15 dari Stasiun Lempuyangan. Kereta yang ditunggu datang sekitar jam 16.20, tapi sampe jam menunjukkan 17.00, kereta yang uda dateng belum juga diberangkatkan, padahal jalur keretanya kosong, dan ga ada kerusakan pada keretanya. TERNYATA...kereta itu mau ada penumpang spesial, ada seorang pejabat yang mau 'nunut mudik'. Entah maksudnya apaan, tapi beliau (mau gimanapun 'beliau' pejabat) mau maunya naek kereta prameks bersama dengan keluarganya. Wow! 40' dianggap sebagai harga yang murah demi kedatangan 4 orang. Dan yang lebih ajaib, beliau dengan santainya jalan dengan pakaian necis dan senyum super polos menyusuri gerbong saya untuk menuju...gerbong wanita. Okay...istri dan anaknya cewe memang,tapi apa yang beliau lakukan di gerbong wanita (??!?). Bahkan, seorang security yang biasanya ngebantuin kondektur memvalidasi tiket, 'menemani' dia sepanjang perjalanan. Tiket saya saat itu pun...tidak divalidasi. Entah karena gerbong yang terlalu padet, ato karena kurang personil.
2. Untuk menaiki moda transportasi ini (kelas non eksekutif), muka anda harus cukup TEBAL dan bulu hidung anda harus cukup LEBAT.
Uda jadi rahasia umum, kalo kereta di Indonesia seringkali mengalami over capacity. Terakhir saya naek kereta justru terjadi merger 2 kereta (prameks + madiun jaya) karena salah satu kereta rusak, gerbong yang berkuota 56 penumpang dijejali lebih dari 60 penumpang. Balik lagi ke topik, ada 2 jenis tiket sebenernya di moda transportasi ini, tiket berdiri dan tiket duduk. Dan kebanyakan dari penumpang yang dapet tiket berdiri lebih memilih untuk ngesot di lantai gerbong (dari survey saya, semua tiket prameks dicetak dengan keterangan >> Tiket berdiri/tnp tmpt duduk). Ada juga sih beberapa yang bawa bangku portable (kalo di Jakarta katanya dilarang,padahal selama bangku portable yang digunakan bukan bangku portable kepunyaan sutradara film,ga ganggu2 amat buat penumpang laen,IMHO). Kalo tanpa muka yang setebal pantat mereka, gimana mungkin mereka mau duduk di atas lantai yang lumayan sering jadi 'toilet portable'-nya anak kecil yang gebelet pee bahkan poo maupun tempat kaum 'pemabuk' mengidentifikasi isi perutnya. Belum lagi ditambah trolley 'kelontong mini' yang mau sepadet apapun keadaan di dalem kereta juga masih tetep beroperasi (fyi, trolley ini musuh besar orang2 yang bawa anak kecil). Dan saya jamin, sudut pandang para pengesot ini, jauh dari definisi kata indah.
Nah! Uda tau kan gimana kalo over capacity, saat keringat orang yang satu harus bergumul dengan keringat orang yang lain hingga tercipta sebuah senyawa yang cukup berbahaya untuk dihirup hidung manusia biasa.
Suatu hari saya pernah kebagian naek kereta prameks jadul (warna lembayung) pas lagi jam padet, di kereta ini bakalan susah banget buat jadi pengesot karena tipe bangkunya yang berderet. Sehingga otomatis jiwa primata saya dilatih dengan bergelantungan di dalam kereta. Hingga di stasiun perhentian pertama setelah keberangkatan, masuklah Oom2 berkumis lebat, berkeringat, dan berpakaian kaos kutang yang apesnya berdiri di depan saya, hal ini didramatisir dengan bertambah padatnya gerbong yang saya tumpangi (ooooh maaaaan, God's last name is not Damnit!). Dengan analogi kumis lebat berbanding lurus dengan bulket yang lebat, serta keringat yang dahsyat berbanding lurus dengan bau yang jahat, saya bersiap menghadapi uji nyali di kereta itu. Hingga tiba suatu saat *akhirnya* saya bisa membelakangi OOBLBDBKK itu (dalam hati saya seketika berkumandang lagu Glory Glory Man United...wuopoooh). Tapi kisah ini belumlah usai *ceilah*. Sesampainya di kontrakan, saya unpack barang2 bawaan, dan saya amati tas saya basah. Entah kerasukan apa, tangan saya memegang tas, dan hidung saya mengendusnya. Besoknya, puasa saya *tumben* lancar.
Nah...terus apa dong yang bisa saya perbuat sebagai harapan-dunia-ketekniksipilan-Indonesia-dimasa-mendatang??
Cuman 1 sih yang ada di pikiran saya saat ini, Membuat sebuah sistem pemesanan tiket terpadu.
Alangkah indahnya apabila sistem ticketing dapat terintegrasi. Diawali dengan pembagian kuota tiket berdasar dengan jumlah minat dan animo penumpang terhadap suatu stasiun. Misal nih ya, untuk tiket prameks Solo Balapan - Jogja Tugu, Solo Balapan kejatah 40% tiket, Purwosari 30%, dan Klaten 20%, dengan tiket cadangan 10%. Trus modelnya dibuat kaya sistem pemesanan tiket bioskop online, tapi dirancang supaya cuman petugas tiket stasiun yang bisa mengakses sistem ini. Sehingga teramat memungkinkan untuk merubah distribusi kuota sebelumnya sesuai dengan keadaan real di lapangan.
Tapi ada 1 sih yang ngeganjel, selama kecepatan koneksi internet di negeri ini secepat pesawat jet yang ditarik pak tarno pake gigi, bakalan agak 'ngeganggu' juga apabila sistem ini diterapkan. Dan yang pasti, proyek ini bakalan jadi lahan super basah karena menyangkut teknologi dimana masyarakat kita masih belum cukup 'sadar teknologi'. Bisa2 jadi kaya proyek pembuatan jalan di Indonesia, yang jarang banget ada drainase (supaya senantiasa ada proyek 'perbaikan dan perawatan jalan'). Dana yang seharusnya bisa buat beli alienware, cuman dibeliin seperangkat alat komputer yang kalo buat maen minesweeper aja nge-lag.
Andai saja mimpi saya ini dapat terpenuhi dalam tempo dekat, pemberangkatan kereta juga harus lebih disiplin. Kecuali jika ada gangguan teknis, atau halangan yang memang tidak memungkinkan kereta diberangkatkan tepat waktu. Agar baik saya, kamu, anda, dia, dan beliau dapat belajar menghargai indahnya budaya yang disebut..disiplin.
Banyaaaaaak banget sebenarnya uneg2 saya, terkait masalah moda transportasi ini. Saya sendiri juga tidak mau munafik, saya bukanlah tokoh yang selalu protagonis dalam kehidupan, saya juga lumayan sering jadi pelanggar hukum ataupun orang yang bermuka dua. Tapi marilah kita manfaatkan kesempatan untuk berpendapat secara bebas ini. Kalo berkenan, share aja pendapat kalian disini. :))
x.o.x.o
ManusiaGakGila
GAP.
x.o.x.o
ManusiaGakGila
GAP.

andraaaaa I LIKE your post! hahahaa iya emang menderita banget tuh! aku pernah naik KRL di jakarta, dan temen aku apes banget. di depan dia ada bapak2 yang tinggi gitu kan, dan pipi dia NEMPEL sama bahu bapak2 di depan dia.
BalasHapusuntung doi nyengir2 aja hahaha
anyway, kata aku si pejabat di gerbong wanita parah banget laaaah. berarti dia declare kalo sebenernya perkawinannya selama ini tidak sah. karena sesama #eaaa
hmm. kalo soal penyelesaian belum kepikiran apa-apa hehe. but I do think kalo dengan harga murah seharusnya hak asasi manusia lebih dihargai (pecinta harga murah yang sering kere)
mantap gan.. ikut nimbrung yah..
BalasHapuskalo masalah delay mah sudah jadi rahasia umum. jadi inget dulu waktu semester 1 pernah HAMPIR telat ujian kimia gara-gara kereta delay. untungnya engga jadi telat dan alhamdulilah ya dpt A *sombong haha
yang lagi HOT buat pramekser saat ini adalah adanya kereta madiun jaya eksklusif full ac yang menuh2in jadwal prameks. itu sangat bikin gondok sekali, jadwal prameks yang notabene tiap jam ada, sekarang terkadang diganti jadwal si madiun yg baru itu. bisa dibayangkan kalo misal uda di stasiun jam 4 dan jadwal kereta jam 4 ternyata diganti madiun jaya eksekutif yang tiketnya seharga 20.000. kalo mau nunggu prameks biasa harga 10rebu harus nunggu sampai jam 5an. itu gondoooook sekale sodara2. ngoyot nunggu di stasiun sampe kereta prameks biasa dateng. (prinsip ekonomi gr2 gg mau kehilangan 20rb) hahaha.. yah begitulah. pesen saya, anda2 sekalian yg prameksker harus tau jadwal pramkes dgn sebenar2nya jadi gg ngoyot 1 jam ato kehilang 20 rebu untuk jarak yang hanya jogja-solo gr2 madiun jaya FULL AC!
pengalaman juga tentang gerbong khusus wanita, sepertinya masih banyak masyarakat kita, kaum adam terkhusus, yang gg bisa baca aturan main si gerbong khusus wanita (huft!), kadang muka mereka tu innoncent ato lebih tepatnya SOK INNONCENT biar bisa tetep di gerbong khusus wanita. itu sangat SESUATU banget!!! tolong kesadarannya y hei kalian kaum PRIA!! hahaha