Alkisah, di sebuah malam yang sunyi, tinggalah gakgila dan seorang teman seperkontrakannya berduaan di kontrakan. Sembari menemani si teman yang lagi ngerjain tugas, gakgila yang lagi-lagi males belajar pun melatih otot2 jempol tangannya dengan mengganti2 channel televisi. Hingga terhentilah olahraga jari ini ketika gakgila melihat sebuah acara musik dangdut di sebuah stasiun televisi yang diselingi dengan sebuah sketsa cerita yang menurut sudut pandang saya...eeeeennnngggg...gimana ya...baca ma bayangin dulu aja deh...
Dan beginilah ceritanya...
*cerita di dalam cerita*
Adegan diawali dengan seorang cewe yang berlenggak-lenggok dengan pakaian pesta di sebuah gang lokasi parkiran sebuah rumah makan Seafood. Adegan ini berlangsung cukup lama, saya pun mulai curiga rating acara yang semula BO sebentar lagi akan menjadi DW. Lalu si cewe ini pun memperkenalkan diri sebagai...Miss Kemgoy *what a name!*
Adegan berganti lokasi menjadi di dalam restoran.
Miss Kemgoy (MK) : Pelayan!! Pelayaaaan!!! Lelet banget sih!!!
*baru duduk uda teriak2 begini*
Pelayan Cewe (P1) : Iya mbak, mau pesan apa?
MK : Hamburger ada ga hamburger?*ngomongnya uda kaya blasteran Cinta Laura ama kucing persia*
P1 : Maaf mbak, kami tidak menjual hamburger.
MK : Ahh...kamu pasti pelayan baru, Gue maunya makan hamburger, panggilin pelayan yang laen!
Ga berapa lama, pelayan cewe ini dateng bersama 2 rekan-nya yang keduanya cowo (sebut saja P2 & P3).
P3 : (cengangas cengenges)
P2 : Maaf mbak, ada apa ya?
MK : Gue mau pesen hamburger ada ga hamburger?
P3 : (masih cengangas cengenges)
P2 : Wah, tidak ada hamburger mbak
MK : Ga becus semua deh, Gue kan bisanya cuman makan yang berkelas, Pija ada ga Pija?*otak saya lumayan lama nyantholnya bahwa yang dimaksud adalah Pizza*
P3 : (mati karir!! masih cengangas cengenges, tapi kali ini mulai berani lirik2 kamera)
P2 : Tidak ada juga mbak kalau itu
MK : AH!! Restoran apa ini! Kalo gitu gue pesen Spageti aja deh!!
P3 : (satu scene lagi dan dia akan menjadi bintang pepsodent)
P2 : Maaf mbak, ini restoran Seafood, masakan yang mbak pesen tidak ada dalam menu kami.
MK : Iuwh! Gue ga doyan SIPUT!! Gue kesel deh!
P2 : Terus apa yang harus kami perbuat agar mbak tidak kesel?
MK : Kamu bisa nyanyi? Bisa Joget? Kalo bisa, nyanyi ama joget dong buat gue.
P2 : Bisa mbak, alamat palsu ya...
Dan P1, MK, P2 pun diperdamaikan dengan dendangan lagu alamat palsu, sebelum saya menyadari bahwa cowo yang tariannya paling heboh adalah...P3. Adegan pun diakhiri dengan pemberian Goody bag ke Trio P oleh MK.
WHHAAAAAAAAAATTT!!!
Sketsa ini mampu mencampuradukkan emosi saya. Dalam sudut pandang saya, hal ini mungkin menjadi 5' paling 'salah ambil keputusan' dalam hidup saya, sebelum akhirnya saya berpikir...AHA! Cerita ini bisa jadi awal yang asik buat draft tulisan yang mau saya post.
Seperti yang uda ada di judul, point of view, alias sudut pandang. Berbicara tentang variasi dalam persepsi maupun tanggapan seseorang terhadap suatu kejadian yang sama atau mungkin saling berkaitan.
Menurut saya sketsa tadi adalah sketsa terburuk yang pernah saya tonton dengan mata kepala saya sendiri di sebuah stasiun TV swasta nasional.Tapi bagi penulis cerita, dan bahkan talent-nya, sketsa tadi bisa saja merupakan masterpiece mereka *mengingat ketebalan make up MK yang mungkin menghabiskan stok produksi kosmetik Martha Tilaar selama satu dekade terakhir*
Masalah sudut pandang bisa beraneka ragam dan sangat dekat keberadaannya dengan kita.
::: Waktu saya belajar nyetir dulu, saya dapet doktrin : becak dan sepeda berkeranjang bambu (bronjong) adalah musuh terbesar bagi pengendara roda 4, udah jalannya lelet, menuhin tempat, ga sadar marka pula...enak banget mereka, berasa jalan punya sendiri. Namun, persepsi saya berubah ketika sore tadi di sebuah angkringan, ada seorang bapak tua renta dengan sepeda dan bronjongnya, berteduh dari derasnya hujan, berkeluh kesah : zaman dulu sepedaan enak, udaranya seger, belom banyak kendaraan, ketemu orang di jalan walau ga kenal tetap bertegur sapa...enak ya yang naik mobil, nyumbang asep tapi ga ngirup asep.
::: Pernah juga waktu SMA, saya makan di warung langganan yang notabene mabes bagi tukang becak dan kuli angkut. Seorang tukang becak tiba2 berseloroh : enak ya orang kaya, bisa makan roti lapis daging sama sayur, dikasih saus (burger) coba kalo saya bisa beli buat anak saya, pasti dia seneng banget, makannya pasti lahap. Namun, sudut pandang berbeda dinyatakan oleh sahabat Mom-ma saya, dengan keadaan yang cukup berada, dimana tiap 10' dalam 1 hari delivery Pizza Hut menjadi hal yang terlalu murah baginya, dia justru bergumam : enak ya kuli bangunan itu, makan cuma nasi, tempe, sama karak tapi kayanya makannya enaaaaaak bangett, lahap gitu.
Sebenernya cuman 1 hal yang pengen saya sorot dari postingan saya kali ini. Ga ada gunanya kita berkeluh kesah tentang keadaan kita. Karena bagi orang lain keadaan kita mungkin adalah keadaan idaman baginya. Belajar bersyukur tanpa mengusik zona kenyamanan orang lain mungkin adalah salah satu cara yang paling tepat, namun juga paling susah untuk direalisasikan.
So? Seperti apa sudut pandangmu menyikapi permasalahan hidupmu saat ini? Dengan kacamata positif? Atau kacamata negatif?
x.o.x.o
ManusiaGakGila
GAP.

0 komentar:
Poskan Komentar