Akhirnya bisa ngepost juga di tahun yang baru ini.
Menurut analisis saya, bakalan ada 2 jenis sikap yang berbeda ketika melihat judul postingan ini. Orang yang pertama, adalah orang yang takut dan parno, karena dikira ini postingan tentang homo2an. Yang kedua adalah orang yang senyum2 sendiri, mikir kalo postingan ini adalah tentang homo2an.
Sayang sekali, buat kalian2 yang homo, postingan ini ga akan mengandung konten homoseksualitas sama sekali. Dan buat kalian yang ga homo, jangan takut untuk membaca postingan ini hingga tuntas.
Homo Homini Lupus merupakan ungkapan dalam bahasa latin yang memiliki arti 'Manusia adalah serigala bagi sesamanya'. Nah, gimana sih maksud dari ungkapan tersebut?
Menurut analisis saya, bakalan ada 2 jenis sikap yang berbeda ketika melihat judul postingan ini. Orang yang pertama, adalah orang yang takut dan parno, karena dikira ini postingan tentang homo2an. Yang kedua adalah orang yang senyum2 sendiri, mikir kalo postingan ini adalah tentang homo2an. Sayang sekali, buat kalian2 yang homo, postingan ini ga akan mengandung konten homoseksualitas sama sekali. Dan buat kalian yang ga homo, jangan takut untuk membaca postingan ini hingga tuntas.
Homo Homini Lupus merupakan ungkapan dalam bahasa latin yang memiliki arti 'Manusia adalah serigala bagi sesamanya'. Nah, gimana sih maksud dari ungkapan tersebut?
Saya akan memaparkan contoh2 sederhana berdasarkan pengalaman nyata saya.
Beberapa waktu yang lalu, dari tanggal 3 hingga 7 Desember 2011, seorang gakgila melakukan kegiatan nyambi di sebuah kegiatan pameran komputer di Jogja. Di kegiatan APK*M YES (nama disensor untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan) ini, salah satu tugas saya adalah untuk mengawasi dan memperingatkan pengunjung, peserta,bahkan panitia yang merokok di dalam ruang pameran.
Dalam benak saya, ga mungkin lah ada perokok yang saking gebleknya selain bunuh diri, juga mau bunuh orang lain yang ada di pameran ini. Tapi kenyataannya sungguh mengejutkan, hampir tiap saya sweeping saya menemukan adanya oknum2 yang merokok di dalam ruang pameran. Apa susahnya sih jalan bentar ke smoking area kalo emang kalian perlu banget ngerokok.
Beberapa waktu yang lalu, dari tanggal 3 hingga 7 Desember 2011, seorang gakgila melakukan kegiatan nyambi di sebuah kegiatan pameran komputer di Jogja. Di kegiatan APK*M YES (nama disensor untuk menghindari hal2 yang tidak diinginkan) ini, salah satu tugas saya adalah untuk mengawasi dan memperingatkan pengunjung, peserta,
Dalam benak saya, ga mungkin lah ada perokok yang saking gebleknya selain bunuh diri, juga mau bunuh orang lain yang ada di pameran ini. Tapi kenyataannya sungguh mengejutkan, hampir tiap saya sweeping saya menemukan adanya oknum2 yang merokok di dalam ruang pameran. Apa susahnya sih jalan bentar ke smoking area kalo emang kalian perlu banget ngerokok.
Kalo gini saya sendiri juga bingung siapa yang memiliki peran paling besar dalam membunuh orang. Perokok yang terikat dengan rokok kah? Produsen rokok yang harus menghidupi karyawan dan keluarganya kah? Atau bahkan negara yang salah satu pendapatan terbesarnya adalah cukai rokok kah?
Wah, sudah terlalu ngelantur sepertinya omongan saya. Dari pengalaman ini, perokok2 yang ga sadar waktu dan tempat inilah yang berperan sebagai serigala bagi sesamanya (para perokok pasif).
Sempet terlintas di benak saya, untuk mengganti rambu larangan merokok.

Yang ada di benak saya saat mengikuti kegiatan ini adalah saya bisa mendapat tambahan dana, dan pengalaman organisasi. Namun kenyataannya adalah, saya tombok dan hampir tidak mendapat pengalaman sama sekali dalam hal organisasi (curcol mode : off). Satu hal yang saya kagumi, bahwa setelah kegiatan ini SELESAI pun, DIMANAPUN saya berada, otak saya seperti memerintahkan tubuh saya untuk mendekati orang yang sedang merokok, dan berkata, "Maaf mas, di area ini dilarang merokok, silakan merokok di area yang disediakan" (Perlu seminggu penuh untuk menghentikan program otomatis otak saya ini)
Ada pengalaman lain juga yang saya peroleh beberapa hari yang lalu. Tepat disaat saya usai menunaikan UAS, saya mendapat kabar duka dari salah seorang sahabat saya. Saya pun bergegas menuju Solo dengan menggunakan transportasi favorit saya, Prameks.
Namun kali ini Prameks dengan warna ungu (prameks lama) yang harus menghampiri saya di Lempuyangan. Sempat saya mencari gerbong yang relatiiiiiiif lengang untuk dapat saya masuki. Disinilah kejadian seru saya alami, gerbong yang saya duga lengang, ternyata justru dipenuhi oleh Aneh aja, mereka mengatasnamakan keletihan dan 'banyak'nya anggota keluarga mereka (belanjaan juga diitung sebagai anggota keluarga) sebagai 'hukum' yang berfungsi untuk mengusir penumpang2 lain yang mayoritas pelajar dan mahasiswa. Bahkan di area pengasingan ada juga seorang Kakek dengan topi veteran (kisaran usia 80an) yang masih dengan setia dan tanpa komplain mau berdiri menjauh dari 'ruang keluarga', yang saya yakin ga ada yang lebih tua dari umur si kakek.
Area seluas + 9m2 berisi 12 orang, dibandingkan dengan area seluas + 12m2 berisi 31 orang. Andai saja 'serigala2' ini mau sedikit berkorban, pasti orang2 lain ga perlu mengeluarkan sumpah serapah karena ketidakpuasan, bahkan area gerbong pun dapat dengan relatif adil dibagi bagi para penumpang.
Itulah beberapa kejadian yang saya anggap memenuhi kriteria 'homo homini lupus'. Saya yakin temen2 juga pasti banyak yang pernah merasa hidupnya, kenyamanannya, waktunya, keamanannya terancam karena oknum2 yang tidak bertanggung jawab menggunakan haknya, sehingga mengancam hak orang lain.
Mengapa manusia tidak menerapkan 'homo homini homo' saja, manusia berperan sebagai manusia bagi sesamanya?
eh eh eh...lantas, kriteria manusia dapat dikatakan sebagai manusia apa dong?
x.o.x.o
ManusiaGakGila
GAP.
Itulah beberapa kejadian yang saya anggap memenuhi kriteria 'homo homini lupus'. Saya yakin temen2 juga pasti banyak yang pernah merasa hidupnya, kenyamanannya, waktunya, keamanannya terancam karena oknum2 yang tidak bertanggung jawab menggunakan haknya, sehingga mengancam hak orang lain.
Mengapa manusia tidak menerapkan 'homo homini homo' saja, manusia berperan sebagai manusia bagi sesamanya?
eh eh eh...lantas, kriteria manusia dapat dikatakan sebagai manusia apa dong?
x.o.x.o
ManusiaGakGila
GAP.

0 komentar:
Poskan Komentar